Tandang Kunjung :

SUKSMA BALI

“SUKSMA BALI DAN GRAFITI SEBAGAI GAGASAN”

Video oleh Hibatul Hakim
Penulisan oleh Wayan Agus Wiratama

Ada satu hal menarik dari pelaku grafiti: mereka tak ingin menyebutkan nama, sebab kelompok ini melakukan kerja kolektif, “Yang muncul harus nama bersama, bukan perorangan. Siapa pun bisa menjadi Suksma Bali,” kata salah satu anggota Suksma Bali yang juga tidak menyebut namanya.

Suksma Bali merupakan kumpulan orang yang mengelola event grafiti di Bali. Mereka biasa berkumpul di berbagai tempat dan berbagai kesempatan. Berkumpul memberi mereka peluang untuk mengelola ide yang akan dikembangkan untuk melakukan satu kegiatan bersama. Kelompok ini tidak menyebut diri sebagai sebuah kolektif, tetapi cara kerja itu tetap terjadi di Suksma Bali. Menariknya, di Suksma Bali, tetap dilakukan kurasi. Cara pandang kurasi sebagaimana pameran lukisan tentu tidak akan sesuai dengan sistem kurasi pada kelompok ini.

Kurasi dalam konteks kerja grafiti tidak seperti kurasi dalam kegiatan lain; misal memilih satu karya dan menjegal karya lain untuk muncul. Hal demikian tentu akan menutup kemungkinan yang tak terduga dari ide-ide yang tergejal itu. Kurasi dalam konteks kerja grafiti di Suksma Bali ada pada ranah gagasan. Mereka melakukan kurasi dengan mendiskusikan satu ide, diberi masukan, dikritisi, demikian sampai menemukan titik cerah. Tentu saja, hal ini masih bisa disebut kurasi bila kita memandang kurasi sebagai suatu sistem seleksi. Bedanya, kurasi yang dilakukan Suksma Bali berada pada ranah gagasan. Mereka membawa semangat kurasi pada ranah kognitif sehingga, hal-hal yang memiliki celah untuk dikembangkan, masih memiliki peluang untuk dikembangkan.

Suksma Bali terbentuk pada tahun 2019, tepat sebelum pandemi. Terbentuknya Suksma Bali diawali dengan melakukan jaming grafiti. Mereka sempat mengorganisir para pelaku seni jalanan ini yang sempat redup. Pada tahun 2011, kelompok grafiti sempat muncul di Bali, tetapi setelah itu hilang lagi. Sementara itu, pada tahun-tahun sebelumnya, tentu sudah ada kelompok grafiti yang muncul di Bali. Semisal, pada tahun 2009, namun mereka tidak dikumpulkan lagi mengingat rentang waktu yang barangkali telah membawa para pelaku pada kesibukan lain. Tetapi, beberapa pelaku senior grafiti di Bali, tetap memberi dukungan dengan caranya masing-masing.

Bali menjadi satu fenomena yang menarik dari kacamata Suksma Bali. Umumnya, grafiti muncul di kota-kota besar, di wilayah-wilayah urban. Tetapi, rupa-rupanya, grafiti juga muncul di Bali, wilayah yang bukan wilayah urban. Maka dari itu, Suksma Bali Menyebut grafiti di Bali sebagai grafiti di wilayah Urban Village. Selain itu, tembok di Bali memiliki hiasan yang sudah indah, sebagaimana relief-relief di tembok pura, pola, dan sebagainya. Jadi, pemilihan ruang pun harus berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu yang tidak serta merta mengecat tembok orang sehingga jatuhnya pada vandalisme padahal, grafiti merupakan satu karya seni.

Pemilihan ruang pun dilakukan dengan hati-hati, karena jalanan memiliki kejutan-kejutannya sendiri. Biasanya mereka mencari tembok yang kadang sudah ada coretan vandal. Lalu, mereka akan merundingkan rencananya dengan pihak pemilik, sehingga telah terjadi kesepakatan antara kedua belah pihak ketika tembok sudah digambar: Suksma Bali dan pemilik tembok.

Selalu ada hal menarik di tempat yang tak terduga, sebagaimana bali yang disebut sebagai Urban Village. Pada masa-masa pandemi, layangan celepuk (layang-layang yang menyerupai burung hantu) menjadi primadona. Hampir di seluruh langit Bali, layangan model ini bisa dijumpai. Layangan celepuk bukanlah satu hal baru, tetapi yang membedakan layangan celepuk sebelumnya dengan layangan celepuk pada masa belakangan adalah adanya grafiti di tubuh layangan. Pertemuan dua entitas yang berlatar berbeda—layangan dengan kesan tradisinya dan grafiti dengan keurbanannya—bertemu pada tubuh layang-layang. Barangkali adalah momen yang tepat yang bisa meramaikan hal seperti ini. Ketika itu, salah satu grafiti artis menggambar layangan celepuk dan itu ramai di media sosial.

Nah, dalam konteks inilah kerja-kerja Suksma Bali atau bisa disebut, semangat grafitilah yang diemban kumpulan anak muda ini. Mereka ingin mengatakan bahwa sesungguhnya semua orang bisa menggambar di jalanan, tetapi hal yang ingin dibicarakan itulah menjadi pembedanya. Suksma Bali meminati wacana yang lebih terorganisir ketimbang coretan-coretan yang justru merusak tempat-tempat tertentu mengingat grafiti bali yang ada pada konteks berbeda dengan grafiti dalam konteks urban, inilah yang memerlukan penggodokan dan ide harus lebih matang.

Maka dari itu lah, suksma Bali meniatkan grafiti sebagai sebuah semangat, bukan sekadar kesenian jalanan. Tapi, ada juga ruang-ruang lain yang sesungguhnya mungkin untuk dimasuki oleh kesenian ini. Dalam kerja seperti ini, pencatatan atas proses kreatif, dialektika kehadiran grafiti di ruang lain selain jalanan, dan segala percakapan semacam itu mendapat perhatian lebih. Premis ini juga memberi pengaruh pada proses akhir dari karya. Maka, di Suksma Bali, tidak ada bentuk karya dan mereka sementara meyakini: tidak ada kesimpulan atas grafiti.

Suksma Bali sempat melakukan kegiatan di Ubud yaitu, hari raya grafiti. Kegiatan ini menggunakan format blok party, yang berisi pameran, live painting, musik, dan hal-hal ini didukung oleh orang-orang yang tidak sedikit juga terlibat di dalamnya. Hari raya grafiti dilakukan dengan semangat sebagaimana merayakan hari raya, khususnya galungan. Pada hari raya galungan, tersedia banyak banyak makanan, pesta, dan bersenang-senang. Tampaknya hal ini mendapat respon positif dari para pelaku grafiti di luar Bali. Beberapa respon itu terlihat dari pengadaan kegiatan yang mirip di waktu yang sama.

Tampaknya, hal ini menjadi salah satu hal yang ingin dicapai oleh Suksma Bali. Pasalnya, mereka sempat mengatakan bahwa, Suksma Bali masih pada tujuan sederhana: menunjukkan geliat grafiti juga ada di Bali. Selain itu, kelompok ini juga ingin mengubah stigma masyarakat atas grafiti, yang notabene menggunakan cat kaleng.

“Kalau sudah ada suara teng klenteng klenteng, pasti dikira vandal.” Kata salah satu anggota Suksma Bali sambil mencoba menirukan suara cat kaleng.

Sebelum pandemi, kelompok ini menggagas beberapa acara lain, yaitu jaming grafiti di Tabanan, Tour grafiti di wilayah Ubud, Grafiti Kepupungan, dan workshop layangan clepuk. Dalam konteks tertentu, momen menjadi satu hal penting untuk dipertimbangkan. Misalnya, usaha Suksma Bali menghadirkan grafiti ketika layangan menjadi satu kegiatan masal di Bali. Dan, mereka berusaha melakukan persilangan budaya itu. Kegiatan lain yang pernah dilakukan Suksma bali yaitu: melancaran, megibung, kolaborasi. Sebagian besar event digelar atas inisiasi sendiri dan sisanya merupakan ajakan kolaborasi. Sayangnya, grafiti adalah kesenian mahal. Jadi, regenerasi masih sulit dilakukan. Sementara itu Suksma Bali mengusahakan adanya regenerasi dengan cara-cara tertentu.

Dalam Fraksi Epos, Suksma Bali akan menyediakan ruang untuk mengeksekusi ide atau wacana dengan kurasi bersama sehingga ide bisa tersampaikan, ruang ini mereka beri nama Galleri di Mall. Selain itu, Suksma Bali akan membuka diskusi untuk mengelola event dalam skala kecil. Ruang ini akan terbuka pada siapa pun dan tidak menutup kemungkinan hanya pada grafiti.

FRAKSI EPOS adalah ruang berbaurnya berbagai disiplin kesenian dari musik, instalasi, seni pertunjukan, graffiti dan lain sebagainya. Ruang tersebut digagas untuk mewadahi gerakan seniman muda. Baik yang bergerak pada akar tradisi, kini, atau diantara keduanya. Festival akan diadakan dari tanggal 5 Februari hingga 27 Maret 2022, di South Beach – Discovery Shopping Mall, Kuta, Bali.

Area festival terdiri dari 6 galeri pameran dengan 1 panggung utama dan ruang galeri komunal, serta melibatkan puluhan seniman muda dari Bali, Jakarta, Yogyakarta, Bandung dan berbagai kota besar di Indonesia lainnya.

DAPATKAN AKSES MASUK KE SEMUA PROGRAM DAN GALERI FRAKSI EPOS DISINI