TANDANG KUNJUNG

Studiodikubu

Merantau: Pembacaan Ulang Terhadap Ruang

Video oleh HIBATUL HAKIM
Penulisan oleh Wayan Agus Wiratama 

“Saya tidak pernah merantau. Selama hidup ini, saya tinggal di Bali,” kata I Gede Eza Darma Saputra yang akrab dipanggil Esa, lulusan Program Studi Arsitektur, Universitas Udayana, salah satu anggota Studiodikubu. Studiodikubu merupakan satu komunitas yang kini aktif membahas isu tentang ruang dan tempat, terbentuk pada 14 Mei 2020. Studiodikubu kemudian membuka ruang untuk mengkaji ulang terma “merantau”, menatapnya dalam konteks hari ini; di mana pertemuan bukan lagi masalah jarak secara fisik. “Merantau” kemudian bisa dinalar ulang; merantau sebagai ruang pertemuan atau perpindahan suatu tradisi berpikir. Dalam konteks ini, “Merantau” merupakan pemantik gagasan dan pertanyaan atas ruang itu sendiri.

Terpilihnya nama Studiodikubu dilandasi dasar berpikir tentang keruangan. Orang Bali memiliki sebutan untuk orang yang merantau, atau membangun rumah di tempat baru yaitu, ngubu. Sebutan ini disematkan tanpa memandang seberapa jauh jarak rumah baru dari rumah asal. Ngubu merupakan kata kerja yang berasal dari kata “kubu”, berarti rumah sederhana. Sementara itu, awalan “Ng” menjadikan kubu sebagai kata kerja yang setara dengan “berumah”. Menariknya, Studiodikubu memandang ngubu sebagai gagasan tentang tempat tinggal atau tempat berpijak atau pegangan atas cara pandang tertentu; sebagaimana Esa menyebut diri belum pernah merantau, tapi berusaha menatap Bali dengan suatu jarak untuk mendapat tatapan objektif atas Bali. Anggota Studiodikubu sesungguhnya sedang ngubu dari rumah gagasan yang bernama Bali.

Hal sebaliknya pada anggota Studiodikubu yang satu lagi yaitu, I Made Dwi Dian Rasmana atau akrab dipanggil Balon. Balon justru sempat tinggal di Yogya sebagai mahasiswa Program Studi Desain Interior di Isi Yogyakarta dan menetap di sana dalam jangka waktu delapan tahun.

Sehingga, ia bisa menatap Bali dengan jarak dan kadang melihat kejanggalan atas penataan bangunan Bali, “Jarak membuat kita jadi lebih peka terhadap perubahan,” terangnya.

Pertemuan dua orang ini merupakan satu bentuk perantauan gagasan: Yogya-Bali dan Bali-Yogya.

Delapan tahun merupakan waktu yang cukup untuk mengenali satu wilayah dan mengenali cara berpikir suatu masyarakat, sebagaimana ungkapan, “Di mana tanah dipijak, di sana langit dijunjung.” Jika berpegang pada premis ini, tentu seseorang yang sedang merantau mesti mengenali bagaimana aturan, kebiasaan, dan cara berpikir masyarakat tertentu selama ia tinggal di suatu wilayah yang dalam konteks Balon adalah masyarakat Yogya.

Bagi Studiodikubu, membaca ruang adalah membaca kebutuhan dan bukan hanya soal keinginan. Pandangan ini mereka gunakan untuk memandang Bali. Tembok rumah-rumah orang Bali tampaknya menunjukkan ke-Bali-an dengan ukiran dan pernik sebagainya, padahal hal itu justru membuat si empunya rumah mengeluarkan uang lebih banyak daripada membangun satu rumah yang hanya mempertimbangkan fungsi.

“Membuat satu bangunan yang menghabiskan dana 150 juta, misalnya, bisa berlipat jika harus ditempeli hiasan. Hiasan itu keinginan atau kebutuhan?” terang Balon yang kemudian menunjukkan hal yang sejajar dengan itu: “Halaman rumah orang bali merupakan ruang yang fungsional,” terangnya.

Orang Bali selalu memiliki kepentingan untuk mengundang tetangga dalam konteks upacara. Segala kegiatan dalam upacara biasanya dikerjakan di halaman rumah, tetapi kini halaman rumah didesain dengan berlebihan, sehingga membuat orang yang hendak mengerjakan sesuatu menjadi sulit. Katakanlah halaman rumah dengan bonsai mahal, ukiran yang menjorok, dan sebagainya. Hal ini tentu saja menyulitkan pekerjaan-pekerjaan khususnya dalam konteks persiapan upacara.

“Barangkali, orang Bali hari ini lebih suka pada bentuk dan bukan fungsi,” kata Esa menyambung pernyataan Balon. Lalu, dengan semangat, Balon menceritakan kasus pisau yang gagangnya diukir. “Tentu saja itu akan terlihat bagus, tapi apakah pisau itu akan nyaman dipegang berlama-lama? Itu pun ukirannya akan dipegang dan tidak terlihat, ‘kan?” katanya.

Beberapa waktu lalu, Studiodikubu hendak menginisiasi satu kegiatan bersama masyarakat di sekitaran studio ini, di Peguyangan, Denpasar Utara. Hanya saja, kegiatan itu memerlukan persiapan untuk dijalankan.

Kini dalam Fraksi Epos, Studiodikubu akan membawa karya berjudul Rong. Konsep karya ini berangkat dari pembacaan atas ruang di Bali yang kini semakin menyempit, dan orang Bali mengenal konsep “Rong Telu”, yaitu tempat pemujaan leluhur dan Tuhan. Esa dan Balon mengandaikan para leluhur tinggal di ruang yang sempit itu beramai-ramai dan mereka bisa tetap tinggal di sana. Sementara itu, lahan di Bali sudah semakin menyempit, tentu saja manusia harus tetap bisa tinggal jika menilik ulang fungsi ruang. Melalui karya ini, Studiodikubu ingin menyampaikan satu hal: pertimbangkan kebutuhan terlebih dahulu sebelum keinginan.

FRAKSI EPOS adalah ruang berbaurnya berbagai disiplin kesenian dari musik, instalasi, seni pertunjukan, graffiti dan lain sebagainya. Ruang tersebut digagas untuk mewadahi gerakan seniman muda. Baik yang bergerak pada akar tradisi, kini, atau diantara keduanya. Festival akan diadakan dari tanggal 5 Februari hingga 27 Maret 2022, di South Beach – Discovery Shopping Mall, Kuta, Bali.

Area festival terdiri dari 6 galeri pameran dengan 1 panggung utama dan ruang galeri komunal, serta melibatkan puluhan seniman muda dari Bali, Jakarta, Yogyakarta, Bandung dan berbagai kota besar di Indonesia lainnya.

Dapatkan Akses Masuk ke Semua Program dan Galeri Fraksi Epos Disini