TANDANG KUNJUNG

Sraya Murtikanti

Narasi Ruang Dalam Kata Ruang Srayamurtikanti

Video oleh HIBATUL HAKIM
Penulisan oleh JONG SANTIASA PUTRA

Salah seorang seniman perempuan gamelan Bali, Ni Nyoman Srayamurtikanti akan bermain di Ruang Baur Seni : Fraksi Epos pada Week V : Luweng Luwung. 2 tahun terakhir nama Sraya selalu hadir pada deretan line up sejumlah acara di Bali. Karya-karyanya cukup unik dan segar, dan memberi pemahaman tentang luasnya jangkauan penciptaan pada gamelan Bali.

Kami bertemu di kediamannya, Jalan Jagaraga – Celuk – Gianyar. Ia mengenakan baju kaos, kamen dan senteng. Kedatangan kami tepat sebelum latihannya dimulai. Ia menata tempat latihan, menurunkan gong, selonding, gender wayang, lalu menempatkannya sedemikian rupa di bawah. Tampak alat-alat gamelan di bale latihannya, serta sejumlah piagam penghargaan yang terpaku di dinding.

Seperti yang kita kenal Desa Celuk – Gianyar merupakan desa pengrajin perak, sebagian besar warganya memiliki bisnis tersebut. Jalur Celuk ini bisa dikata jalur padat wisatawan yang hendak ke Ubud. Tentu hal ini berdampak pada faktor ekonomi masyarakat Celuk. Dalam lingkungan seperti itulah Sraya lahir menjadi seniman yang gigih, tentu pilihannya mendapat gunjingan yang kurang mengenakan dari tetangga atau keluarga besarnya.

“Tapi kalau saya tidak ada di lingkungan ini, mungkin saya tidak akan berkeinginan keras menjadi seniman. Hal ini juga karena pengaruh ayah saya, yang kuat dan mendorong saya mengejar apa yang saya inginkan” ujar Sraya yang saat ini menempuh program pasca sarjana di ISI Surakarta .

Ia mengisahkan selain pendidikan formal di KOKAR dan ISI Denpasar, Sanggar S’mara Murti yang didirikan ayahnya, I Nyoman Suryadi pada tahun 1996, banyak menyumbang sejarah pemikirannya dalam menatap kesenian secara holistik dan berkesinambungan. Selain itu ia sempat menimba ilmu kepada beberapa guru seperti Made Subandi belajar gamelan secara keseluruhan, I Ketut Cater untuk belajar kendang, Kadek Capung dan Kak Dig untuk belajar gender wayang. Ilmu-ilmu ini kemudian menjadi endapan memori yang mengkristal di dalam dirinya, secara tidak sadar akan keluar untuk mengkomposisi nada-nada dalam lagu ciptaannya.

“Metode-metode itu jadi kristal dalam diri saya, nanti pasti keluar secara tidak langsung, berbarengan dengan apa yang saya hayati, jadi satu, kemudian jadilah karya versi saya” tegasnya.

Saya melihat Sraya, walaupun ia menempuh pendidikan formal, ternyata praktek-praktek belajar dari guru ke guru masih ia lakukan. Untuk menyerap berbagai metode yang sangat berpengaruh pada kemungkinan penciptaan. Ia juga menyatakan bahwa belajar ke banyak guru melatih intuisi serta menjaga diri agar lebih bijak menyikapi fenomena musik-gamelan hari ini, hal-hal di luar musik, serta jaringan kerja yang bersangkut paut di dalamnya.

Pemahaman ini membawa Sraya pada arus lingkungan dalam dan lingkungan luar. Tentu kita memahami gamelan Bali memiliki ruang dan praktek kerja yang sangat terjaga dari dahulu, kawan-kawan seniman berada pada jenjang tradisi keakaran. Sementara lingkungan luar, gamelan dapat bekerja dan berbenturan dengan displin ilmu lain, bahkan sering berlompatan dari skena ke wilayah yang sama sekali asing. Bergerak cair tanpa batas. Sraya bergerak pada dua wilayah ini, ia tidak meninggalkan akar, namun tengah memanjangkan akar dengan karya musik miliknya.

Salah satu perpanjangan akar ini akan kita saksikan di Ruang Baur Seni : Fraksi Epos dengan judul KaRang (Kata Ruang). KaRang mencoba untuk menafsir ruang, ruang tidak hanya berupa tempat, namun mewujud pada gagasan serta kesan kebersamaan yang hadir di Fraksi Epos. Baginya ruang memiliki narasi, hal ini merujuk pada terma fungsionalis saat ruang dibentuk sesuai kebutuhan. Narasi ruang tersebut ia coba terjemahkan dalam komposisi, pesan ini melalui bahasa nada, bahasa memiliki akar bernama kata. Kata ini kemudian dinavigasikan kepada penonton.

Dalam KaRang, berarti tempat dalam bahasa Bali. Lalu merujuk pada satu tulisan Ida Pedanda Sidemen yakni Karang Awak mungkin karya Sraya sangat bersisian antara terma-terma ini. Sraya sedang menanami dirinya dengan narasi ruang, ruang juga sedang menubuh pada karya Sraya. Satu timbal balik yang tidak akan berhenti. Lebih jauh lagi KaRang tengah membicarakan ruang perempuan dalam skema gamelan.

“Konsepnya ada yang bebas, ada yang sudah saya atur, tapi yang jelas saya ingin kawan-kawan perempuan saya percaya diri, dimulai dari kebebasan memainkan gamelan” tegasnya.

Karya ini akan dipentaskan bersama Ni Puti Shinta Mahadewi, Anak Agung Ayu Tri Adnya Swari dan Ni Made Dwi Ayu Satvitri. Menggunakan sejumlah instrument seperti 4 buah gong, gender wayang dan selonding.

FRAKSI EPOS adalah ruang berbaurnya berbagai disiplin kesenian dari musik, instalasi, seni pertunjukan, graffiti dan lain sebagainya. Ruang tersebut digagas untuk mewadahi gerakan seniman muda. Baik yang bergerak pada akar tradisi, kini, atau diantara keduanya. Festival akan diadakan dari tanggal 5 Februari hingga 27 Maret 2022, di South Beach – Discovery Shopping Mall, Kuta, Bali.

Area festival terdiri dari 6 galeri pameran dengan 1 panggung utama dan ruang galeri komunal, serta melibatkan puluhan seniman muda dari Bali, Jakarta, Yogyakarta, Bandung dan berbagai kota besar di Indonesia lainnya.

Dapatkan Akses Masuk ke Semua Program dan Galeri Fraksi Epos Disini