TANDANG KUNJUNG

Skullism Records

Dari Tongkrongan, Dari Skullism Untuk Pertemanan

Video oleh HIBATUL HAKIM
Penulisan oleh JONG SANTIASA PUTRA

Jika membaca skena musik Bali, khususnya di Denpasar – selama 4 tahun terakhir mungkin ada baiknya kita bertandang ke markas tengkorak – Skullism Records, di Jalan Ratna – Denpasar. Saya harus perjelas skena musik yang saya maksud, mengacu pada aliran musik yang tidak berada pada arus utama. Mungkin saja jarang tampak di layar kaca televisi, sebab mereka bergerak secara independen, penuh kejutan, penuh jaringan pertemanan.

Kami dari tim Ruang Baur Seni : Fraksi Epos, mendapat kesempatan untuk bertandang kunjung ke sana. Untuk mengetahui lebih dalam gerakan yang sedang mereka susun, latar belakang munculnya gerakan, hingga kisah-kisah menarik di luar ataupun di dalam konteks. Kami bertemu Gung Yoga dan Andre Tovan. Sayang Darin tidak bisa hadir, karena sakit. Sampai tulisan ini dibuat, sejumlah kawan jatuh tumbang karena sakit. Mungkin ada sangkut pautnya dengan pandemi, atau memang daya tahan tubuh sedang menurun. Tapi yang jelas mari jaga kesehatan ya teman-teman.

Gung Yoga dan Andre Tovan, ialah kawan kami yang banyak bergerak di bidang musik, membuat lagu, memanagemen acara, mendistribusikan rilisan fisik dan sebagainya. Selain menjadi anggota band, mereka juga sedang membangun ruang industri musik di Denpasar, agar siklusnya dapat berjalan berkelanjutan.

“Kalau Gung Yoga mungkin lebih kepada memilih band berdasarkan kurasinya. Kalau saya tugasnya lebih managemen acara, lebih banyak di lapangan, dari menyusun program, hingga sampai berjalan” kata Andre pentolan band Kanekuro ini.

Gung Yoga menjelaskan bahwa di tahun 2016, Skullism merupakan brand clothing yang ia dirikan karena kegemarannya menggambar. Kemudian seiring berjalannya waktu ia dan bandnya Cyclops melihat peluang record label di Bali, peluang ini hadir berdasar keluh kesah kawan-kawan tongkrongan terkait perilisan fisik album band mereka. Gayung bersambut, Skullism membelokkan haluannya ke dunia perilisan. Tapi dunia clothing tidak serta merta ia tinggalkan, tetap bersinergi bersama record labelnya menjadi Skullism.merch, yang khusus merancang buah tangan kepada para penikmat.

Dalam industri musik hal semacam ini memang wajar bersinergi, band dapat dipandang sebagai jaringan kerja yang saling bertautan. Hubungan-hubungan inilah yang nampaknya Skullism sedang jabarkan, sehingga menemukan lubang untuk mengaktivasi gerakannya, agar berjalan maksimal. Sebut saja hubungan band dengan penggemar, tidak hanya berhenti pada rilisan fisik, tapi juga silahturahmi acara di mana band tersebut bermain, serta oleh-oleh yang sifatnya piranti identitas, semacam stiker, baju, dan bentuk lainnya.

“Kami juga menginisiasi acara bernama Ampvrabhatara, untuk presentasi band-band di bawah payung Skullism Records. Lucunya begini, kalau kita nggak diundang, ya sudah, kita buat acara sendiri saja” ujar Gung Yoga sambil tertawa lepas.

Lambang tengkorak pada Skullism juga memiliki arti penting dalam gerakan mereka di Ampvrabhatara. Bagi Gung Yoga tengkorak adalah bentuk dari kesejajaran, karena apapun ras, keyakinan, agama, asal seseorang, jika nanti berujung pada kematian, akan jadi tengkorak – tulang belulang. Dan tidak ada perbedaan lagi dengan manusia lainnya. Kesetaraan ini tidak ia temukan, saat Gung Yoga masih menjadi penikmat musik di bangku SMP-SMA, selalu saja ia dapati sebuah ruang berwarna homogen. Musik metal akan bermain dengan jaringan musik metal, pop juga begitu, hardcore pula demikian.

Malah karena keras pengotakan tersebut, hingga terjadi isu rasisme, fasisme yang berujung pada perpecahan. Keresahan itulah yang terjaga dalam hati Gung Yoga, ia menginginkan satu acara musik yang multigenre. Hadirlah Skullism yang dengan sadar membaca gerakan musik di Bali memiliki banyak aliran dan tentu saja mempunyai ruang kerjanya masing-masing.

“Multigenre gini kan enak ya, ini juga karena teman tongkrongan saya, punya selera musik berbeda, makanya penting hadirnya keberagaman ini” kata Gung Yoga

Andre Tovan pun menyetujui hal ini, ia menyadari dalam musik pasti memiliki penonton yang segmented. Biasanya dari teman-teman di sekitar terlebih dahulu, baru kemudian menyebar keluar. Karena semua tersegmen itu, baik juga untuk menggabungkan menjadi satu wadah.

Bagi saya, yang dilakukan Skullism merupakan pembacaan holistik atas skena yang ia pelajari. Untuk memperoleh data yang gemuk, mereka bergaul turun ke bawah, menyambangi setiap gerakan kelompok, nongkrong di mana-mana. Kemudian dari data tersebut, mereka melakukan analisis-analisis sederhana, lalu hadirlah acara yang berbasis pembacaan.

Di Ruang Baur Seni : Fraksi Epos, Skullism Record mempresentasikan 2 kolaborasi band. Kanekuro X Troikaterror dan Shankar x MOTB. Kanekuro yang menamai aliran mereka post punk impulsive disorder akan muncul bersama Troikaterror kelompok semiotik performance yang siap meneror Kanekuro, dirinya sendiri atau para penonton yang datang. Sementara Shankar yang Doom/Metal itu akan berjingkrak mengikuti wacana parodik dari MOTB, atau sebaliknya MOTB lah yang sedang menjadi metal-rapper. Saya sendiri bingung mencari irisan narasi mereka. Tapi yang jelas benturan dari dua kubu yang jauh berseberangan , akan menemui sejumlah titik menarik untuk dikritisi atau dinikmati.

Andre Tovan juga menjelaskan, mereka ingin bermain ke ranah instalasi dan bentuk benda. Di Fraksi, mereka akan memamerkan instalasi yang berasal dari musikalitas dan lirik band, tentu ia berangkat dari band-band Skullism. Intinya pengunjung akan mendapatkan visual bentuk, dari sebuah band. Bentuk ini tentu akan berbeda dari presentasi bermain di atas panggung biasanya.

FRAKSI EPOS adalah ruang berbaurnya berbagai disiplin kesenian dari musik, instalasi, seni pertunjukan, graffiti dan lain sebagainya. Ruang tersebut digagas untuk mewadahi gerakan seniman muda. Baik yang bergerak pada akar tradisi, kini, atau diantara keduanya. Festival akan diadakan dari tanggal 5 Februari hingga 27 Maret 2022, di South Beach – Discovery Shopping Mall, Kuta, Bali.

Area festival terdiri dari 6 galeri pameran dengan 1 panggung utama dan ruang galeri komunal, serta melibatkan puluhan seniman muda dari Bali, Jakarta, Yogyakarta, Bandung dan berbagai kota besar di Indonesia lainnya.

Dapatkan Akses Masuk ke Semua Program dan Galeri Fraksi Epos Disini