TANDANG KUNJUNG

Non Archive

Showcase dan Kualitas Jingkrak Non Archive

Video oleh HIBATUL HAKIM
Penulisan oleh JONG SANTIASA PUTRA

Mungkin bisa dikata, saya ini pertama kali bertemu dengan Mas Agan Dan Raissa Febriani, suami-istri di balik geliat NON Archive. Salah satu record label musik elektronik yang berbasis di Denpasar. Saya dan Hibat dipersilahkan untuk ke lantai atas, saya melihat sejumlah rilisan fisik koleksi NON, sejumlah tumpukan buku, pernak-pernik lainnya, sementara Hibat tengah asik sat-set-sot untuk peralatan rekamnya.

“Latar belakang saya….ya pedagang, saya senang dunia permusikan dulu di Bandung, sekarang di Bali” ujar Mas Agan sebagai pembuka obrolan.

Sebuah gerakan mungkin bisa dibilang tidak langsung jadi begitu saja, plup muncul – saya rasa tidak mungkin. Tapi perlahan tumbuh dari benih – benih yang sudah ditanam jauh-jauh hari, bahkan sering kali dari kerja-kerja kecil yang dilakukan secara konsisten dan bersama-sama. Begitulah NON Archive berkembang, berawal Mas Agan yang gemar dengan dunia musik, menjadi penikmat, kemudian mulai membuat acara secara mandiri, kemudian seiring tempaan waktu dan perjumpaan jadilah NON Archive.

NON begitu Agan menyebut record labelnya adalah upaya untuk melakukan pengarsipan yang berskala kecil, bagi kawan-kawan lingkarannya yang suka membuat musik elektronik. Jika tidak ada penyimpanan, atau tumbuh sadar untuk mengoleksi, sebuah peristiwa akan berlalu begitu saja. Tanpa pembicaraan, tanpa pendataan, malah lebih parahnya akan menghilang seiring bertumpuknya banyak peristiwa. Baginya NON bergerak tidak muluk-muluk, dan tidak ingin ambisius sentris, bergerak perlahan tapi konsisten dan berkelanjutan. Cukup.

Raissa juga mengamini bahwa record label musik elektronik di Indonesia dapat dihitung dengan jari. Jadi ada semacam keinginan juga dalam memberi pendengaran berbeda bagi penikmat musik, dan tentu saja ini merupakan ruang eksplorasi yang dapat membangkitkan para musisi elektronik. Sama seperti Agan, Raissa pun menjelaskan NON adalah gerakan organik yang dibesarkan oleh modal sosial dan pertemanan dekat.

Saya juga membaca hal yang sama digerakan lain, bahwasannya kehadiran gerakan memang dimulai dari modal terdekat. Regulasinya berjalan seperti menjadikan sesuatu yang tidak ada, untuk hadir bersama sebagai – yang bisa diartikan sebuah solusi. Bayangkan saja jika lingkaran musisi elektronik dekat Mas Agan dan Raissa tidak terarsipkan, mungkin tidak ada jejak yang bisa kita nikmati hari ini, sebagai satu lorong yang berupaya menyentuh realitas kemapanan telinga kita.

Dalam sistem kurasi pasangan suami istri ini sangat klop, karena ada satu kesadaran utuh atas pembacaan musik, narasi, pengemasan visual, serta mampukah musik tersebut membawa sesuatu wacana yang lebih besar di luar musik itu sendiri. Untuk mempresentasikan ini semua NON selalu mengadakan acara showcase, yang berguna mendistribusikan pemikiran musisi, kepada penikmat yang ingin disasar. Setidaknya dari showcase ini ia dapat membelokkan wacana atau stigma party di musik elektronik. Untuk memberikan sudut pandang yang segar.

“Musik elektronik memang selalu identik dengan party, mabok, kami ingin membelokkan stigma ini menjadi showcase, agar nanti pulangnya para penonton terngiang, ih apa sih yang kita tonton tadi, kok bisa gitu” ujar Raissa

Perlu saya catat juga kawan pembaca, pasangan ini sejak 3 tahun yang lalu pindah ke Bali. Dan NON Archive berusia 13 bulan. Masih bayi kata Mas Agan. Tentu cara pandang kota asal mereka di Bandung jadi pertimbangan menarik dalam pembacaan musisi di Bali, terutama musisi elektronik. Keduanya sepakat bahwa di Bali semua lini dalam ekosistem musik, saling mengisi. Ketersediaan tempat, artis, jaringan teman yang berkaitan dengan sistem distribusi karya. Jadi terma-termanya tidak banyak berubah ketika mereka melakukan kegiatan berkesenian di Bali.

“Malah aku melihat, kawan-kawan Bali yang terbiasa dengan kebudayan asing ketika melihat dan mampu bermain musik elektronik, jadinya sesuatu yang autentik dan nggak ada di daerah lain” ujar Mas Agan.

Ia juga memprediksi 5 atau 10 tahun ke depan, jika lingkungan ini terus berkembang, mungkin skenanya akan jadi meledak. Terhitung 2 tahun terakhir, karena pandemi, banyak nama-nama musisi anyar hadir. Itu merupakan pertumbuhan yang baik dan sehat, karena didukung oleh lingkungan yang sama menggeliatnya.

Di Ruang Baur Seni : Fraksi Epos mereka akan mempresentasikan FAA-A x16 SHOWCASE dengan line up TXETEXT, Tomy Herseta, Raissa dan Hatagarah. Dalam kesempatan tersebut TXETEXT akan merelease EP yang menceritakan kegemarannya terhadap dunia game di internet. Narasi irisan realitas dan dunia maya, menjadi satu ruang eksplorasinya untuk karyanya kali ini.

“Aku kenal udah setahun sih sama dia, yang kami sering ngobrol, akhirnya release. Mari datang untuk merasakan kualitas jingkrak yang berbeda dari NON Archive” kata Mas Agan.

FRAKSI EPOS adalah ruang berbaurnya berbagai disiplin kesenian dari musik, instalasi, seni pertunjukan, graffiti dan lain sebagainya. Ruang tersebut digagas untuk mewadahi gerakan seniman muda. Baik yang bergerak pada akar tradisi, kini, atau diantara keduanya. Festival akan diadakan dari tanggal 5 Februari hingga 27 Maret 2022, di South Beach – Discovery Shopping Mall, Kuta, Bali.

Area festival terdiri dari 6 galeri pameran dengan 1 panggung utama dan ruang galeri komunal, serta melibatkan puluhan seniman muda dari Bali, Jakarta, Yogyakarta, Bandung dan berbagai kota besar di Indonesia lainnya.

Dapatkan Akses Masuk ke Semua Program dan Galeri Fraksi Epos Disini