Interview

Grey Audio Lab

Bahwa Originalitas Sangat Bias Hari ini.

Penulisan oleh JONG SANTIASA PUTRA

Membicarakan hari ini, terhadap perkembangan teknologi yang kian maju, seolah meninggalkan perkembangan biologi manusianya, kita selalu dihadapkan oleh piranti-piranti yang membantu manusia bekerja lebih cepat. Satu contoh tersebut bernama software, yang dapat diunduh berbayar di internet. Tak berlebihan saya mengatakan semua lini kehidupan pasti sangat beririsan dengan hal tersebut.

Mengacu pada premis di atas, saya bertemu dengan Rizky Argadipraja, seorang composer, musisi bernama panggung Grey Box, founder dan pengajar di Grey Audio Lab. Membincangkan segala kemungkinan dalam dunia musik, yang dulunya hanya dapat dimainkan dengan alat, namun secara berkala berpindah ke dunia elektronik, salah satunya penggunaan software ableton.

Rizky mengisahkan nama Grey Box merupakan nama production house yang ia kelola bersama temannya sewaktu SMA. Kemudian atas seizin teman-temannya nama ini ia catut dalam karya musik elektroniknya di soundcloud. Baginya Grey – tidak diartikan pada warna, merupakan batas wilayah yang berada pada celah antara. Grey tidak memihak ke hitam, atau ke putih. Ruang ini merupakan cara dia bekerja dalam memandang musik yang lintas genre, lintas kebudayaan, bahkan lintas wilayah.

“Sementara Box ialah ruang untuk membentangkan komposisi musik pada waktu pembuatan, dalam Box tersebut saya bisa membayangkan apa yang ingin saya ciptakan, menaruh ini di depan sini, menaruh ini di belakang, dan ada dimensi bunyi yang saya bayangkan. Box bukan berarti mengkotak-kotakkan yah” ujarnya sambil memberi imajinasi kepada saya atas perspektif kotak tersebut.

Kemudian setelah menempuh pendidikan di luar negeri, pada bidang musik. Ia bercita-cita memiliki sekolah kecil untuk belajar software ableton sejak tiga tahun lalu. Berdasarkan pertemuannya dengan Mas Jawir salah satu teman diskusi Mas Rizky, ia menyusun semacam program, kurikulum, konsep, dan hadirlah Grey Audio Lab.

“Aku berterimakasih banget sama mas Jawir, karena dari dia juga nama Audio Lab itu ada, dulu mas Jawir punya program namanya apa gitu, tapi isi Audio Lab. Nah saya izin pakai namanya itu” ujarnya sembari tertawa lepas.

Ada satu hal menarik pembicaraan kami tentang bagaimana seorang musisi mengambil sampel lagu orang lain. Kemudian dipakai sebagai materi lagunya sendiri. Hal ini terjadi pada para musisi dunia terdahulu, yang memang dengan sengaja mencatut, mencukil, atau mengambil beat, melodi, dari sebuah lagu yang ia dengar sebelumnya. Pertanyaannya apakah itu illegal?

“Kalau tidak salah, bisa mengambil tapi dengan waktu tertentu, hanya 3-6 detik saja. Kemudian dapat digunakan untuk materi lagu musisi tersebut” ujarnya

Tapi ini tentu ada yang bersifat legal dengan meminta izin kepada musisi sebelumnya. Namun tidak jarang sampling dilakukan diam-diam. Hal ini tentu jadi hal menarik pada waktu itu, karena terlihat saling mengintip satu sama lain. Namun jika kita pautkan pada dunia hari ini, dan segala akses informasi yang mudah didapatkan, termasuk akses mengunduh lagu yang ada di kanal-kanal gratis. Semua orang dapat menggunakan sample siapa saja, artis terkenal, atau artis obskur sekalipun. Kemudian fenomena tersebut sekaligus menanyakan di mana letak originalitas suatu karya musik.

“Semua orang bisa merekonstruksi musik dari banyak sample dari luar, membuat komposisi seolah itu menjadi miliknya. Dan memang susah soal originalitas sekarang ini, bias. semuanya berada pada daerah abu-abu” ujarnya.

Nah di Fraksi Epos Mas Rizky akan memberi satu pandangan “Who Sample Who”, ini berkaitan dengan sejarah, aluran waktu diakronik, serta intrik sample yang dilakukan oleh musisi. Keterpengaruhan ini menjadi satu hal yang perlu dicatat, untuk memberi pengetahuan kepada kawan-kawan lain, bahwa nyampling itu sudah terjadi dari dulu, dengan attitude dan perilaku yang sopan dalam menghargai karya seni.

FRAKSI EPOS adalah ruang berbaurnya berbagai disiplin kesenian dari musik, instalasi, seni pertunjukan, graffiti dan lain sebagainya. Ruang tersebut digagas untuk mewadahi gerakan seniman muda. Baik yang bergerak pada akar tradisi, kini, atau diantara keduanya. Festival akan diadakan dari tanggal 5 Februari hingga 27 Maret 2022, di South Beach – Discovery Shopping Mall, Kuta, Bali.

Area festival terdiri dari 6 galeri pameran dengan 1 panggung utama dan ruang galeri komunal, serta melibatkan puluhan seniman muda dari Bali, Jakarta, Yogyakarta, Bandung dan berbagai kota besar di Indonesia lainnya.

Dapatkan Akses Masuk ke Semua Program dan Galeri Fraksi Epos Disini