TANDANG KUNJUNG

Black Menu

Dari Bisikan Alternatif, Hingga Ngejot Proses Ke Black Menu

Video oleh HIBATUL HAKIM
Penulisan oleh JONG SANTIASA PUTRA

Ada satu kelompok pameran yang menarik perhatian saya, Black Menu. Kelompok ini tergolong muda usianya dalam kancah skena seni di Bali. Tapi tunggu, kalau dibaca lebih jauh dan kritis, kehadirannya tidak luput dari pembacaan serta jaringan kerja seni mereka terdahulu di Yogjakarta. Para punggawanya menempuh pendidikan di ISI Yogja, tentu tidak bisa dipungkiri bahwa ada jejak pertemanan yang akan siap membantu mereka di Bali. Terutama teman-teman yang pernah dulu berkesenian di Yogja, kemudian pulang kampung ke Bali. Kepala saya dipenuhi oleh spekulasi, kemungkinan irisan pertemuan yang terjadi. Ahhh saya memang selalu suka begini, kalau datang untuk wawancara orang, penuh praduga, penuh prasangka, maaf ya pembaca.

Setiba di studio Black Menu – Ubud, kami disuguhi es kunyit, dan ketela bakar yang baru saja Aga buat. “Malam ini kita mabuk wacana saja”ujar saya sambil mempersiapkan catatan.

Benar saja obrolan berlangsung sampai menjelang subuh, membicarakan banyak hal dari kepulangan Solar dan Aga ke Bali, terbentuk hingga berhentinya Whaton_house, peta buta pencaharian mereka di Bali. Saking serunya kami lupa waktu, besok saya masih ada deadline tulisan Fraksi Epos.

Singkatnya begini, terbentuknya Black Menu di Bali karena satu bisikan alternatif yang didapat oleh Satrianing Danuraga (Aga), ketika mendapati dirinya tak berdaya pulang ke Bali karena pandemi. Aduh bli Aga siapa juga yang berdaya di saat krisis seperti ini. Bisikan alternatif itu kemudian didedah, didiskusikan, serta disolusikan kepada Made Agus Darmika (Solar). Jadilah Black Menu.

Perlu diketahui teman-teman pembaca, mereka berdua ini dulu tergabung dalam kolektif Whaton_House di Yogjakarta. Kolektif yang bergerak dengan menatap makanan sebagai karya seni. Hidangan dibentangkan untuk memperhitungkan estetika penyajiannya, narasi bahan, beban kultural, hingga menyentuh perasaan penikmatnya.

“Saya ingin membuat perasaan kawan-kawan senang, sejuk, romantis sebelum mereka memakan masakan saya. Hukum makanan itu harus enak, tapi suasananya juga harus mendukung” ujar Aga yang saat ini tengah bermain instalasi dari bahan kayu.

Solar mengisahkan Whaton House berusia 2 tahun, namun sebelum itu proses pembicaraan dan narasi yang mereka inginkan sudah berjalan jauh sebelum itu. Baginya saat itu Whaton sedang berada pada masa yang baik, bisa dibilang sudah di atas, terbukti dari undangan-undangan mereka yang tidak hanya dari Jawa, hingga Lampung dan sampai ke luar negeri. Jadi Whaton berhenti pada periode yang dikenang oleh orang banyak.

Kemudian, anggap saja dari kolektif mapan, mereka berdua memutuskan untuk ke pulang ke Bali merancang Black Menu. Black artinya hitam dan Menu selalu identik dengan jenis makanan di warung atau restoran. Hitam mengacu pada peta buta yang ia hadapi dalam membaca ruang gerak kesenian di Bali, mereka sedang melakukan pembacaan ulang dan memetakan komunitas serta jaringan. Menu juga mengacu pada jenis, tapi lebih luasnya jenis karya yang seperti apa, jenis produk apa yang akan mereka kerjakan. Semuanya masih dalam ruang hitam itu. Gelap.

“Ini aku nggak tahu juga, Black Menu akan jadi apa yah, dalam peta buta ini, kami mencoba meraba-raba arah dan mau ke mana. Anggap saja kami sedang belajar mulai dari nol” ujar Solar yang saat ini tengah belajar melukis teknik tradisi di kampungnya.

Hal ini diakui pula oleh Aga, ia menjelaskan keinginannya untuk membuat sesuatu, tapi tidak berkaitan dengan masak-memasak seperti dulu. Ia kembali mengulik dirinya lebih dalam, mencari apa keahlian yang bisa ia kerjakan, yang dapat digunakan sebagai pisau bedah dalam menjalani dan membentuk karakteristik Black Menu.

“Aku ini suka memuat sesuatu dengan tanganku sendiri, 5 tahun aku jadi asisten seorang seniman Jepang, juga begitu kerjaku, dan waktu di Whaton aku membuat barang-barang dapur sendiri. Mungkin keahlianku untuk membuat ini-itu bisa kugunakan di Black Menu” kata Aga serius kepada saya.

Terbukti karya pertama mereka bertajuk “Peti Duwe” berkolaborasi dengan duo eksperimental Kadapat. Black Menu membaca kebutuhan Kadapat jika diundang untuk bermain musik, karena menggunakan alat yang cukup rimbit, serta perkabelan yang terasa menjemukan. Black Menu mencari solusi, lahirlah karya itu. Peti Duwe ini ditatap sebagai karya seni, karya ini pernah mengikuti pameran yang bertajuk pengemasan.

“Jadi kan itu karya kami ya, nah di manapun Kadapat maen, karya kami lagi pameran. Berkeliling dia” ujar Solar.

Dalam kegelapan itu, Black Menu menawarkan satu presentasi di pameran Fraksi Epos, berjudul Ngejot. Ngejot ialah upaya bentuk syukur yang dilakukan dengan cara memberi bingkisan (dalam hal ini bisa berupa buah, sate, lawar, dan lain sebagianya) kepada tetangga. Biasanya pada momen upacara tertentu seperti Galungan atau Nyepi. Ngejot juga sering disebut mesaiban dalam konteks sesaji yang dihaturkan setiap pagi usai memasak. keduanya sama-sama memiliki terma – memberikan.

Black Menu mebentangkan Ngejot ke dalam frase gagasan-ide. Ngejot gagasan ke Black Menu, siapa yang ngejot ? ialah dua seniman pilihan Black Menu. Yakni Agus Mediana (cupruk) dan Gusti Dalem. Agus Mediana berlatar belakang pelukis, namun beberapa tahun terakhir ia tengah bermain dengan media cahaya, kinetik, serta gagasan spekulatif dalam menguraikan huruf dan angka. Sementara Gusti Dalem seorang seniman keramik, yang bermain dengan media tanah.

Solar mengisahkan lebih rinci terkait sistem kurasi ini. Agus Mediana merupakan teman dekat mereka berdua, dulu sama-sama menempuh pendidikan di Yogja, sementara Gusti Dalem ialah seniman yang sama sekali tidak pernah beririsan dengan mereka. Keduanya akan mengejot idenya, kemudian akan melakukan diskusi, dedah karya, hingga sampai pembuatan. Bagi Solar tentu proses kerja ini akan menghasilkan dialog yang berbeda melihat kedekatan pertemanan mereka.

“Menarik kan, ini merupakan simulasi yang pertama. Jadi tidak apa masih dalam tahap mencoba, akan jadi karya apa ?. aku juga tidak jelas” ujar Solar.

Lebih jauh Solar menjelaskan ada satu hal penting yang kita sering lupakan dalam berkarya, yaitu proses. Ngejot, menawarkan proses yang terbuka, bahkan dapat dilihat oleh para pengunjung. Karya mungkin saja bagian ke sekian, tapi proses merupakan hal yang patut dilihat lebih khusyuk, karena tanpa proses karya juga tidak akan mampu bicara banyak.

“Harus aku akui, kalau aku datang ke pameran atau galeri, aku jarang membaca kata pengantar, itu kan proses. Naaah dalam ngejot aku harus sadar terhadap proses” katanya.

Aga melanjutkan, studio Black Menu akan pindah ke Fraksi Epos, ruang pamerannya merupakan ruang kerja seniman terkait. Hal ini tentu menjadi kejutan bagi pengunjung yang biasanya melihat karya yang sudah jadi, sekarang disuguhkan masih dalam bentuk gagasan, dan pameran bersifat temporer, selalu berubah setiap harinya.

Untuk itu saya harapkan, setelah membaca tulisan singkat ini. Sebaiknya langsung menuju pameran Black Menu, siapa tahu teman-teman dapat ikut serta dalam kerja proses para seniman. Saya yakin tidak akan rugi ngobrol bareng kawan-kawan ini, saya saja sampai lupa waktu saat melakukan wawancara.

Di perjalanan menuju pulang, saya masih berfikir akan jadi apa pameran mereka, di ruang pameran yang besar itu. Ah sudahlah…..

FRAKSI EPOS adalah ruang berbaurnya berbagai disiplin kesenian dari musik, instalasi, seni pertunjukan, graffiti dan lain sebagainya. Ruang tersebut digagas untuk mewadahi gerakan seniman muda. Baik yang bergerak pada akar tradisi, kini, atau diantara keduanya. Festival akan diadakan dari tanggal 5 Februari hingga 27 Maret 2022, di South Beach – Discovery Shopping Mall, Kuta, Bali.

Area festival terdiri dari 6 galeri pameran dengan 1 panggung utama dan ruang galeri komunal, serta melibatkan puluhan seniman muda dari Bali, Jakarta, Yogyakarta, Bandung dan berbagai kota besar di Indonesia lainnya.

Dapatkan Akses Masuk ke Semua Program dan Galeri Fraksi Epos Disini